Tuesday, September 21, 2010

Ajaran-ajaran pokok Wali Songo dan cara dakwah mereka pada masa lalu

Untuk menarik orang-orang musyrik di kepulauan Hindia Timur pada masa lampau, dakwah Islam dilakukan dengan menempuh berbagai cara. Pelaksanaanya disandarkan pada kejernihan pikiran para Da’i, keutamaan perilaku mereka, baik terhadap diri mereka sendiri maupun terhadap orang lain. Kegiatan dakwah tidak dilakukan oleh badan-badan atau organisasi-organisasi, melainkan oleh perorangan atau sekelompok orang yang mengikhlaskan diri dan waktunya untuk menyebarkan agama Islam dikalangan penduduk musyrik dan belum mengerti atau belum pernah mendengar tentang Islam. Para Da’i dengan sabar, tabah dan hati-hati mengikuti keadaan dan mengindahkan tradisi yang sedang berlaku serta memperhatikan sungguh-sungguh tabiat dan jiwa orang-orang yang hendak diberi pengertian. Dengan demikian mereka berhasil baik dalam menjalankan tugas dakwah yang diwajibkan oleh agamanya. Salah satu factor utama yang menyebabkan keberhasilan mereka ialah; mereka berakhlak mulia, berbudi luhur, berbicara lembut, bersabar dan tidak menyentuh adat-istiadat setempat dimana mereka (orang-orang yang hendak di-islamkan) tumbuh dan dibesarkan.

Para Da’i memahami benar bahwa tradisi dan kebiasaan yang sudah berlaku secara turun-temurun tidak mungkin dapat dihapus dengan perdebatan atau dilawan dengan berdialog. Lembaran-lembaran buku sejarah banyak yang memberitakan penyebaran agama Islam dikepulauan Indonesia, tanah Melayu dan kawasan sekitarnya, termasuk cara-cara yang ditempuh oleh para da’i pada masa dahulu. Diantara cara-cara yang ditempuh dan kegiatan yang dicurahkan untuk berdakwah ialah menggunakan bentuk-bentuk kesenian indah yang sangat digemari penduduk. Kedalam bentuk-bentuk kesenian itu para Da’i memasukkan unsur-unsur ajaran islam dengan mengubah beberapa kata dan kalimat (dalam liriknya) dan di-isi dengan ajaran-ajaran Islam yang mudah diserap. Hingga sekarang nyanyian dan tarian masih tetap ada sebagai pusaka peninggalan para Da’i zaman dahulu. Karena para Da’i bekerja atas dorongan hati yang ikhlas dan semangat Tasawwuf yang tinggi, dengan kesabaran luar biasa mereka berpegang pada metode ‘tut wuri handayani’ yakni ‘mengikuti sambil menarik perlahan-lahan’. Dengan tekun dan tahap demi tahap mereka mengubah dan mengisi lirik nyanyian dan lagu-lagu yang digemari penduduk dengan untaian kata dan kalimat yang mengandung pengarahan akidah dan pendekatan diri kepada Allah swt serta pendidikan akhlak Islam.

Misalnya cara yang ditempuh oleh seorang waliyullah terkenal, Joko Sa’id yaitu menggunakan pagelaran ‘wayang’, suatu kesenian Jawa yang sangat diegemari penduduk pada masa itu. Beliau menggubah ceritera-ceritera pewayangan dengan di-isi prinsip-prinsip ajaran Islam secara luwes, kemudian dipagelarkan (dipentaskan) didepan khalayak ramai. Pementasan ini banyak digunakan untuk menyebarkan pengertian tentang agama Islam. Lirik nyanyian dan lagu-lagu yang biasanya digunakan untuk mengiringi tarian Srimpi yang lazim dipentaskan di istana-istana kerajaan, diubah demikian rupa menjadi hikayat yang diambil dari buku ‘Amri Hamzah’ yang mengisahkan kepahlawanan paman Nabi Muhamad saw dalam membela agama Islam , yaitu Sayiduna Hamzah bin Abdul Muthalib ra. Adapula Da’i yang bernama Sayid Ishaq bin Ibrahim bin Al-Husain menempuh cara penyebaran Islam keberbagai daerah, dengan pengobatan untuk menolong penduduk yang sakit. Ada lagi diantara para Da’i antara lain Sayid Abubakar di Philipina, yang menempuh cara dengan mendekati penguasa dan bangsawan yang berpengaruh untuk membantu mereka dalam pekerjaan mengelola pemerintahan atau kesultanan sambil berdakwah mengajak mereka masuk agama Islam. Ada lagi cara umum yang bercorak kesenianj, yang ditempuh oleh para Da’i. Diberbagai tempat yang telah direncanakan, diselenggarakan hiburan semacam ‘pesta’, di-isi dengan nyanyian dan lagu-lagu keagamaan (umpama sholawatan, mengucapkan kalimat-kalimat tauhid dan lain-lain yang serupa) dengan di-iringi dengan rebana. Pesta demikian itu dihadiri oleh banyak orang, ada yang telah masuk Islam dan ada juga yang belum. Mereka datang berduyun-duyun tertarik oleh suara rebana dan nyanyian-nyanyian. Usai pesta demikian itu orang-orang yang belum memeluk Islam makin dekat hubungannya dengan mereka yang telah memeluk Islam. 

Pada akhirnya mereka mengikuti jejak teman-temannya, menyatakan keinginan memeluk Islam. Demikianlah ceritera atau sejarah para Da’i dalam menyebarkan Islam dikepulauan Indonesia khususnya dan daerah-daerah kawasan sekitarnya pada zaman dahulu.
Kyai Haji Raden Abdullah bin Nuh –rahimahullah- mengatakan didalam bukunya Wali Songo,”bahwa sembilan orang Wali semuanya mengajarkan agama Islam secara murni, bermadzhab Syafi’i dan termasuk Ahlus Sunnah wal jama’ah”.

Ada sementara pihak yang mengatakan bahwa bahwa ajaran diantara Wali Songo itu mengawinkan atau mengasimilasikan ajaran Islam dengan seni budaya lama (Syiwa Budha) di Jawa. Jelas ini tidak mungkin, karena Wali Songo adalah para ulama yang sangat besar ketakwaannya kepada Allah swt dan mengenal baik apa yang dihalalkan dan diharamkan oleh Syari’at Islam.

Didalam Majalah Islam Al-Jami’ah nomer 5, tahun 1, bulan mei 1962 memuat sebuah makalah yang ditulis oleh Drs. Wiji Saksono dengan judul ‘Islam menurut wejangan Wali Songo berdasarkan sumber sejarah’  menuturkan beberapa hal, antara lain: Dari sembilan orang wali itu hanya Sunan Bonang (silahkan rujuk bab Sunan Bonang) sajalah yang hingga dewasa ini dapat diketahui dengan jelas pokok-pokok ajarannya dan dapat dijadikan pegangan atau sumber rujukan. Sedangkan ajaran para Wali yang lain masih sangat samar dan belum terungkapkan. Banyak sekali yang telah ditulis orang tentang ajaran Wali Songo, tetapi belum dapat dinilai sebagai sejarah dalam arti yang yang sebenarnya. Meskipun demikian, apa yang terdapat didalam ajaran-ajaran Sunan Bonang itu sudah dapat dipastikan dan dijadikan ukuran untuk dapat diketahui corak ajaran Islam yang pertama masuk dipulau Jawa khususnya dan kepulauan Indonesia lainnya. Apabila kita menelaah dan mempelajari naskah-naskah dan mempelajari naskah-naskah Primbon wejangan Sunan Bonang, kita akan menjumpai nama-nama judul Kitab dan nama-nama tokoh sebagai sumber pemikiran Wali Songo. 

Nama-nama dan judul-judul kitab yang dimaksud ialah:
Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Al-Ghazaliy ; Talkhish Al-Minhaj karya Imam Nawawi ; Qut Al-Qulub karya Abu Thalib Al-Makky (salah satu kitab rujukan bagi kitab Ihya nya Al-Ghazaliy). Beberapa nama yang disebut dalam Primbon tersebut ialah :
Pikantaki (Daud Al-Anthakiy) ; Abu Yazid Al-Busthaniy ; Muhyiddin Ibn ‘Arabiy ; Seh (Syeikh) Samangu ‘Asarani (?) ; Abdulkadir Al-Jailaniy ; Syeikh Rudadi (?) ; Syeikh Sabti (?) ; Pandita Sujadi wa Kuwatihi (?). Tamhid Fi Bayanit-Taudih karya Abu Syukur As-Salamiy.

Fiqh, tasawwuf dan tauhid tersusun lengkap dan rapih dalam Primbon Sunan Bonan sesuai dengan ajaran akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dengan madzhab Syafi’i. Dalam primbon tersebut disamping terdapat ajakan kepada tauhid, juga terdapat seruan kepada pembacanya agar menjauhkan diri dari perbuatan syirik (menyekutukan Allah swt dengan yang lain).
Sunan Bonang juga menegaskan adanya beberapa pemikiran sesat mengenai soal ketuhanan, antara lain :
- Paham atau pemikiran yang menganggap Dzat Allah adalah kekosongan hampa semesta.
- Paham atau pemikiran yang beranggapan bahwa yang ada (maujud) adalah Allah, dan yang tidak ada (‘adam) pun Allah juga.
- Paham atau pemikiran yang menganggap asma Allah itu adalah kehendakNya dan juga DzatNya. Demikian sebaliknya.
- Paham atau pemikiran kaum Batiniyah yang antara lain mengatakan, bahwa semua makhluk adalah sifat Tuhan
- Paham atau pemikiran Kawula Gusti, yaitu yang menganggap manusia dan Tuhan adalah bersatu
- Paham atau pemikiran Wahdatul-Wujud (Pantheisme) yang mengatakan Tuhan itu identik dengan makhlukNya.

Semua paham, pemikiran dan aliran atau ajaran-ajaran seperti yang dikemukakan tadi, oleh Sunan Bonang dinyatakan sesat dan kufur. Dasar-dasar akidah yang ditegakkan dan harus dipelihara, menurut ajaran Sunan Bonang, ialah:- Allah adalah Al-Khaliq yang Maha Esa, mandiri, tidak tergantung pada apa pun juga dan Maha Kuasa. Ini merupakan asas Tauhid.- Manusia beroleh kebebasan berikhtiar, ini merupakan asas tanggung jawab insani.Pada penutup primbon tersebut Sunan Bonang menyerukan :“Hendaklah perjalanan lahir batinmu sesuai dengan jalan syari’at, mencintai dan berteladan kepada Rasulallah saw.” Dari sekelumit isi Primbon-nya Sunan Bonang itu jelas tergolong Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dan serupa itulah ajaran para Wali Songo atau para Da’i lainnya yang tersebar di Hindia Timur dan kepulauan lainnya. Demikianlah riwayat singkat para Wali Songo dan para Da’i serta ajaran-ajaran pokoknya. 

Nama dan sejarah singkat Sembilan orang Wali (Wali Songo)
Untuk sedikit menambah riwayat-riwayat yang telah dikemukakan tadi, marilah kita ikuti berikut ini nama dan silsilah para Wali Songo (Sembilan orang Waliyullah) yang dikenal dikepulauan Jawa khususnya. Kaum muslimin di Jawa pada umumnya yakin bahwa tersebar luasnya agama Islam di Jawa adalah berkat kegigihan, keuletan dan kesabaran sejumlah ulama yang terkenal dengan sebutan: Wali Songo atau Sembilan orang Wali. Ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa jumlah wali pada masa itu hanyalah sembilan orang. Adapula yang berpendapat jumlah mereka lebih dari sembilan, namun yang sembilan orang itulah yang terkenal luas. Sebutan Wali sesungguhnya adalah singkatan dari kata Waliyullah yakni orang yang beroleh limpahan karunia dari Allah swt, karena ketinggian mutu ketakwaan mereka kepada Allah dan kemantapan mereka dalam mengabdikan seluruh hidupnya demi kebenaran Allah dan keridhoan-Nya. Para waliyullah adalah hamba-hamba ,diluar para Nabi dan Rasul, yang dicintai Allah swt. Mereka benar-benar manusia sejarah bukan manusia dongeng, sebagaimana yang dikatakan oleh sementara orang yang tidak mempercayai adanya kekeramatan (karomah) yang di limpahkan Allah swt kepada para Wali. Allah swt. telah memberikan penjelasan kepada kita tentang para Wali itu, sebagaimananya firman-Nya:
Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya para Wali Allah itu tidak khawatir terhadap mereka dan tidak pula mereka itu bersedih hati. Mereka adalah orang-orang beriman dan senantiasa bertakwa” (QS Yunus:62-63). 

Allah swt menganugerahkan kehormatan atau kemuliaan ,menurut kehendakNya, kepada siapa saja dari kalangan hamba-hambaNya yang sholeh baik mereka yang dari kalangan umat Muhamad saw maupun dari kalangan para pengikut para Nabi dan Rasul sebelum beliau saw. Sebagaimana yang telah kami kemukakan pada bab 7 disitus ini ‘tentang pengertian Wali dan fatwa para ulama’ bahwa Allah swt memberi keampunan kepada pihak yang satu demi kemaslahatan pihak yang lain, memaafkan kesalahan pihak yang satu untuk kebaikan pihak yang lain dan menolong pihak yang satu untuk keselamatan yang lain. Demikian lah sebagaimana yang terdapat didalam hadits-hadits ‘Arafat (dikemukakan oleh Al-hafidh Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Targhib bab ibadah haji jilid III hal. 323).  Bahkan ada pula hadits-hadits yang menegas kan  bahwa diantara para hamba Allah yang sholeh, ada yang justru karena kemuliaan (karomah) para waliyullah itu Allah menurunkan rizki dalam kehidupan dialam wujud. Karena mereka, Allah menurunkan air hujan, memberikan pertolongan kepada hamba-hambaNya, mencegah datangnya bencana, mendatangkan kebajikan serta menyayangi semua penghuni bumi (hadits-hadits semacam itu antara lain yang diketengahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan rawi-rawinya adalah para perawi hadits shohih dan diriwayatkan juga oleh Anas bin Malik ra dan Thabrani didalam Al-Ausath.). 

Nama sembilan orang Wali yang sangat dikenal oleh kaum muslimin dipulau Jawa ialah:1. Maulana Malik Ibrahim. 2. Sunan Ampel 3. Sunang Bonang 4. Sunan Giri. 5.Sunan Drajat. 6 Sunan Kalijaga. 7. Sunan Kudus. 8. Sunan Muria . 9. Sunan Gunung Jati. Riwayat singkat Wali Songo sebagai berikut:

Maulana Malik Ibrahim:
Beliau adalah Wali pertama dalam jajaran sembilan orang Waliyullah di Jawa. Nama lengkap dan silsilah nasabnya: Maulana Malik Ibrahim bin Barokat Zainul-‘Alam bin Jamaluddin Al-Husain (Jamaluddin Al-Akbar) bin Ahmad Syah Jalal bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Malik bin ‘Alawi bin Muhamad Shahib Marbath bin ‘Ali bin ‘Alawi bin Muhamad bin ‘Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa bin Muhamad bin ‘Ali bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhamad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Husain bin Al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw dan Fathimah Az-Zahra ra binti Muhammad Rasulallah saw. Tidak diragukan sama sekali bahwa Maulana Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ‘Alawiyyin yakni keturunan Ahlu-Bait Rasulallah saw.

Amat besar jasa dan pengabdian beliau kepada masyarakat dan mengeluarkan penduduk pulau Jawa yang pada zamannya masih banyak terbenam didalam kekufuran yaitu penganut agama Hindu dan Budha atau dua-duanya sekaligus Syiwa Budha. Dari penganut agama Hindu hanya golongan Wesya, Sudra dan Paria yang dapat diajak memeluk Islam. Sedangkan dari kaum Brahma dan Ksatria pada umumnya sukar menerima dakwah Islam karena agama Islam akan menyamakan kedudukan social mereka dengan rakyat biasa, yakni kaum kaum Wesya, Sudra dan Paria. Maka dari banyak dari mereka ini yang hijrah ke pulau Bali untuk mempertahankan agamanya, yang hingga sekarang dikenal dengan agama Hindu Bali. 

Ada yang mengatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Persia, bahkan dikatakan juga bahwa ia nikah dengan saudara wanita Raja Cermin. Akan tetapi riwayat seperti itu tidak mempunyai dasar yang kuat. Stamford Raffles,seorang politikus Inggris, dalam bukunya ‘History of Java’ yang ditulis tahun 1817 M menegaskan bahwa Maulana Malik Maghribi (julukan Maulana Malik Ibrahim) seorang dari keturunan dari (Ali) Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib yakni suami Siti Fathimah binti Muhamad saw. Mengenai negeri Cermin hingga sekarang tidak dapat dipastikan letak geografiknya. Menurut Raffles, terletak di Hindustan, sedangkan pakar sejarah yang lain mengatakan terletak dikepulauan Indonesia. Beberapa riwayat menuturkan bahwa Maulana Malik Ibrahim datang dari Gujarat, India. Menurut petunjuk yang terdapat pada batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim, beliau wafat dalam tahun 882 H bertepatan dengan tahun 1419 M dikota Gresik, sebuah desa yang bernama Gapura (sekarang namanya jalan Malik Ibrahim).

Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Sunan Ampel dilahirkan sekitar tahun 1381 M di Campa. Mengenai nama Campa para pakar sejarah berbeda pendapat. Menurut Encyclopaedia Van Nederlandsche Indie, Campa adalah nama sebuah negeri kecil di Kamboja. Akan tetapi Stamford Raffles mengatakan bahwa negeri Campa bukan di Kamboja, melainkan di Aceh (Sumatra) dan yang sekarang bernama Jeumpa. Pendapat Raffles tampaknya lebih mendekati kebenaran, karena Aceh dalam sejarah terkenal sebagai daerah islam pertama di Indonesia.

Sunan Ampel (Raden Rahmat), adalah saudara sepupu dengan Maulana Malik Ibrahim, di Gresik. Nama asli dan silsilahnya ialah Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro (Sunan Nggesik, Tuban) bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Syah Jalal …dan silsilah seterusnya sekaitan dengan silsilah Malik Ibrahim.
Beliau menikah dengan puteri tumenggung (hampir sama dengan bupati) Tuban Arya Teja, yang bernama Nyai Ageng Manila dan dari perkawinannya ini ia beroleh empat orang anak, ialah: Puteri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makhdum Ibrahim (dijuluki Sunan Bonang), Syarifuddin (Hasyim) yang dijuluki Sunan Drajat, yang keempat puteri, sebagai isteri Sunan Kalijaga.

Sunan Ampel dalam upayanya mengembangluaskan pemeluk agama Islam di pulau Jawa menyelenggarakan pondok pesantren di Ampel, Surabaya. Disanalah ia mendidik pemuda-pemuda Muslim sebagai calon-calon da’i dan muballigh yang akan menyebar keberbagai daerah. Diantara mereka adalah: Raden Paku yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Giri ; Raden Patah (Abdul Fattah) yang kemudian menjadi sultan Bintoro Demak yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah, kerajaan Islam yang pertama di Jawa ; Raden Makhdum Ibrahim putera Sunan Ampel sendiri, yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Bonang ; Syarifuddin (Hasyim, yang juga putera Sunan Ampel sendiri) yang terkenal juga dengan sebutan Sunan Drajat ; para da’i muballigh yang pernah diutus ke Blambangan untuk mengislamkan rakyat disana ; dan para pejuang Islam lainnya. Semuanya itu adalah mantan-mantan murid gemblengan Sunan Ampel. Beliau wafat di Surabaya dan dimakamkan di Ampel, Surabaya. 

Sunan Bonang (Maulana Makhdum Ibrahim)
Beliau adalah putera Sunan Ampel dan silsilah nasabnya sekaitan dengan silsilah nasab ayahnya. Menurut riwayat beliau lahir dalam tahun 1465 M dan wafat dalam tahun 1524 M. Sunan Bonang sangat giat dan semangat tinggi menyebarkan agama Islam di Jawa Timur, terutama di Tuban dan sekitarnya. Beliau juga menyelenggarakan pendidikan agama Islam dan menempa calon-calon da’i serta muballigh yang akan bertugas menyebarkan agama Islam keseluruh pelosok pulau Jawa. Konon Sunan Bonang inilah yang menciptakan gending Dhurmo,yang menghilangkan kepercayaan tentang adanya hari-hari sial menurut ajaran Hindu dan menghapus nama dewa-dewa sakti. Sebagai penggantinya, Sunan Bonang menanamkan pengertian dan kepercayaan tentang adanya para malaikat dan para Nabi. Apa saja yang tidak bertentang an dengan ajaran dan kepercayaan Islam oleh Sunan Bonang ditempuh sebagai jalan untuk mendekatkan rakyat kepada agama Islam. Dimasa hidupnya beliau turut berperan dan membantu penyelesaian pembangunan masjid agung Demak. Ini merupakan kenyataan yang membuktikan dukungan Sunan Bonang kepada kerajaan Islam yang pertama di Demak. Menurut makalah yang ditulis oleh Drs. Wiji Saksono yang berjudul ‘Islam Menurut Wejangan Wali Songo berdasarkan Sumber Sejarah’ mengetengahkan bahwa Sunan Bonang yang bergelar Prabu Hanyakrawarti dan berkuasa didalam ‘Sesuluking Ngelmi lan Agami’ sama kedudukannya dengan seorang Mufti besar yang berwenang memecahkan masalah-masalah keagamaan (Islam) dan ilmu. Ajaran-ajaran Sunan Bonang sedikit atau banyak mewakili ajaran ayahnya Sunan Ampel dan saudaranya Sunan Drajat. Sunan Bonang juga seperguruan dengan Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati yaitu berguru kepada Maulan Ishaq. Sunan Bonang adalah guru pertama dari Sunan Kalijaga. 

Sunan Giri ( dijuluki Raden Paku)
Nama asli dan silsilah nasabnya adalah: Muhammad Ainul Yakin bin Makhdum Ishaq bin Ibrahim Asmoro bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Syah Jalal dan silsilah seterusnya sekaitan dengan silsilah Maulana Malik Ibrahim. Beliau ini juga keturunan Rasulallah saw sebagaimana Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel dan lain-lain.
Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa Sunan Giri adalah salah satu murid Sunan Ampel. Waktu Sunan Giri berguru kepada Sunan Ampel, beliau bertemu dengan Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), putera Sunan Ampel. Beberapa lama kemudian Sunan Ampel menyuruh puteranya ini bersama Sunan Giri berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji sambil menuntut ilmu lebih dalam lagi. Sebelum berangkat menuju tanah suci mereka berdua singgah di Pasai untuk menambah bekal ilmu. Yang dimaksud ilmu dalam hal ini ialah ilmu ketuhanan menurut ajaran Tasawwuf. Pada masa itu konon banyak ulama berdatangan dari Persia dan India ke Pasai. Usai menunaikan ibadah haji dua orang muda itu pulang ke Jawa. Sunan Giri berhasil memperoleh ilmu ladunniy, sehingga gurunya di Pasai memberinya nama ‘Ainul Yakin’.

Yang menakjubkan banyak orang ialah Sunan Giri justru lebih tersohor daripada gurunya. Dari berbagai pelosok orang berdatangan untuk berguru kepadanya. Bahkan ada pula yang datang dari kepulauan Maluku. Beberapa daerah dibagian timur Indonesia seperti Madura, Lombok, Makassar dan lain-lain, bangga memperoleh ilmu dari Sunan Giri. Hingga abad ke 17 M semua perguruan agama Islam yang diselenggara kan oleh anak cucu keturunan Wali ini kendati mereka tidak disebut sebagai wali terkenal dengan nama perguruan ‘Giri’. Perguruan-perguruan tersebut banyak dikunjungi oleh anak-anak para pembesar dan tokoh-tokoh terkemuka di Maluku. Di Hitu pernah terjadi upacar penghormatan besar untuk menyambut kedatangan sepucuk surat dari sang ‘Raja Bukit’ demikianlah masyarakat di Hitu menyebut salah seorang keturunan Sunan Giri (Giri dari bahasa Sansekerta yang artinya Bukit).Sungguh benar, keturunan Sunan Giri banyak yang beroleh kekuasaan politik penting. Pengaruhnya dalam penobatan raja-raja dipulau Jawa dan sekitarnya amat besar. Sunan Giri wafat dalam tahun 1035 M dan dimakamkan dibukit Giri (Gresik). Sepeninggalnya, kegiatan menyebarkan agama Islam diteruskan oleh Sunan Dalem, Sunan Sedam margi dan Sunan Prapen. 

Sunan Drajat (Maulana Syarifuddin)
Maulana Syarifuddin terkenal dengan sebutan Sunan Drajat (di Sedayu). Ia putra dari Sunan Ampel. Silsilah nasabnya juga sama dengan silsilah ayahnya sendiri yakni Sunan Ampel, sebagai keturunan dari Rasulallah saw. Dia juga seorang da’i yang gigih dan tekun menyebarkan kebenaran agama Allah, Islam kepada rakayat. Beliau juga termasuk pendukung setia Raden Patah dan turut serta mendirikan kerajaan Islam pertama di Demak (Jawa). Tidak banyak riwayat yang menuturkan kehidupan Sunan Drajat, baik kapan dilahirkan dan kapan dia wafat. Tetapi beliau dikenal sebagai waliyullah dan orang yang berjiwa sosial. Kasih sayang dan bantuannya kepada orang-orang yang hidup serba kekurangan, orang-orang sengsara, anak-anak telantar dan yatim piatu menjadi buah bibir masyarakat luas. Kekhususan Sunan Drajat adalah ia memberikan apa saja yang di milikinya bila diminta oleh orang yang membutuhkan. Terdapat juga riwayat yang mengatakan bahwa Sunan Drajat itulah yang menciptakan tembang ‘Pangkur’. Wallahu a’lam.

Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid)
Nama aslinya Raden Mas Syahid (R.M.Syahid) putra Ki Tumenggung Wilatika, bupati Tuban. Tentang nasab atau silsilah Sunan Kalijaga terdapat perbedaan pendapat dikalangan pakar sejarah Wali Songo. Sebagian mengatakan dia seorang dari suku Jawa Asli. Sebagian lagi dari pakar sejarah menegaskan nama asli Sunan Kalijaga ialah Zainal Abidin dan ia putra Sunan Ampel yakni bersaudara dengan Sunan Drajat, Sunan Bonang dan Sunan Kudus. Jika itu benar, berarti silsilah nasabnya sama dengan ayahnya yaitu Sunan Ampel yang bersambung sampai Imam Ali bin Abi Thalib kw isteri Fathimah Az-Zahra binti Muhamad saw. Ada sementara penulis yang mengatakan bahwa dia berdarah keturunan Arab yang berpuncak kepada Sayiduna Abbas bin Abdul Mutthalib (paman Rasulalallah saw). Menurut penulis ini Sunan Kalijaga adalah anak Tumenggung Wila Tirto, gubernur Jepara, bin Ario Tejo Kusumo, gubernur Laku, bin Ario Nembi bin Lembu Suro, gubernur Surabaya, bin Tejo Tuban bin Khurames bin Abadallah bin Abbas bin Abadallah bin Ahmad bin Jamal bin Hasanuddin bin Arifin bin Ma’ruf bin Abadallah bin Muzakir bin Wakhis bin Abadallah Azhar bin Abbas bin Abdulmutthalib...bin Hasyim dan seterusnya. Tetapi pembuktian si penulis seperti itu sukar diterima kebenarannya dan nama-nama yang disebutnya pun janggal. Sunan Kalijaga kawin dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq dan beroleh seorang putera dan dua orang puteri, yaitu: Raden Umar Sa’id, kemudian disebut Muria, Dewi Rukayah dan Dewi Sofiah.

Sunan Kalijaga seorang waliyullah yang sangat besar toleransinya, seorang pujangga (ahli hikmah) dan seorang filosof. Penulis Belanda menyebutnya Reizende Mubalig (Muballigh Keliling). Tiap pergi untuk bertabligh selalu di-ikuti oleh beberapa orang ningrat (kaum bangsawan Jawa) dan cendekiawan. Mereka ini menaruh simpati besar kepada Sunan Kalijaga bukan karena Wali ini orang Jawa Asli, melainkan karena ia berpikir kritis, cermat dan berpandangan jauh kedepan. Dia termasuk Wali yang sangat di hormati dan disegani, Sampai zaman sekarang ini dia dikenal oleh semua lapisan masyarakat Jawa dari lapisan atas (bangsawan) sampai lapisan bawah (rakyat jelata). Beliau tidak hanya mengislamkan manusia saja, tetapi juga mahir mengislamkan (memasukkan unsur-unsur dan pandangan Islam) keberbagai cabang kebudayaan Jawa seperti seni musik (gamelan dan gending), seni drama (dalam pementasan wayang kulit) dan kesusasteraan. Dia ,meskipun bukan penggemar kesenian, menguasai dengan baik ilmu karawitan (gending-gending dan lagu Jawa termasuk teori musik gamelan). Dia memesan serancak (seperangkat) gamelan dari seorang empu terkenal. Gamelan itu diberi nama ‘Kyai Sekati’, kemudian ditempatkan di serambi masjid Demak. Media dakwah yang bercorak seni rebana dan lagu-lagunya yang berirama Arab, yang sudah mulai dikenal oleh sebagian kaum Muslimin Jawa, dibiarkan terus berlangsung dan Sultan Kalijaga menambah mediah dakwah nya dengan gamelan. Rebana dan gamelan dihidupkan bersama, terutama pada tiap tahun memperingati hari lahir Nabi Muhamad saw. Gamelan yang berada di bawah tarub (atap terbuka) didepan serambi masjid Demak dihias dengan berbagai bunga agar menarik perhatian orang banyak, dan gamelan itu ditabuh tiada henti-hentinya. Sunan Kalijaga adalah seorang ulama yang sangat besar ketakwaannya kepada Allah swt dan mengenal baik apa yang dihalalkan dan yang diharam kan oleh syari’at Islam. Mengenai kapan Sunan Kalijaga dilahirkan dan kapan wafatnya tidak diketahui dengan pasti oleh pakar sejarah Islam di Indonesia. Yang sudah pasti ialah Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, masih termasuk Kabupaten Demak, disebelah Timur Laut kota Demak. Wallahu a’lam.

Sunan Kudus (Jakfar Shadiq)
Jakfar Shadiq atau yang terkenal dengan nama Sunan Kudus adalah putera Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan (ada yang mengatakan letaknya diutara kota Blora). Ada lagi sebagian pakar sejarah Islam di Indonesia yang mengatakan bahwa Sunan Kudus adalah putera Sunan Ampel. Jika ini benar maka nasab silsilahnya sama dengan nasab silsilah Sunan Ampel dan termasuk keturunan Rasulallah saw atau kaum Alawiyyin sama dengan tiga saudaranya Sunan Drajat, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga (?). Sunan Kudus disamping kegiatannya sebagai da’i penyebar agama Islam yang teguh berpegang pada ketentuan hukum syariat ,seperti halnya para Wali lainnya, ia pun mempunyai kedudukan resmi sebagai senopati (Panglima Perang) kerajaan Islam Demak.  Peninggalan Sunan Kudus yang paling menonjol adalah Masjid Agung di Kota Kudus. Bahkan menara yang berada didepan masjid Agung pun diberi nama Kudus. Nama Kudus diambil dari nama kota Baitul Makdis, yang oleh orang-orang Arab disebut juga dengan nama Al-Quds (bermakna Suci). Beliau diperkirakan wafat dalam tahun 1550M. 

Sunan Muria (Raden Umar Sa’id)
Nama aslinya Sunan Muria adalah Raden Umar Sa’id (ada yang menulis Raden Umar Syahid), termasuk Wali Songo yang kondang ditanah Jawa. Beliau dijuluki Sunan Muria karena ia hidup dilereng gunung Muria dan jenazahnya dimakamkan disana. Dalam riwayat disebut, Sunan Muria putera Sunan Kalijaga. Dengan demikian nasab silsilahnya ada dua versi. Versi pertama yaitu yang meriwayatkan Sunan Kalijaga orang Jawa Asli. Versi kedua meriwayatkan bahwa Sunan Kalijaga berdarah keturunan Arab (silahkan rujuk kembali riwayat Sunan Kalijaga). Sunan Muria menikah dengan puteri Sunan Ngudung yang bernama Dwei Sujinah. Dari perkawinannya beroleh seorang putera yang bernama Pangeran Santri, kemudian mendapat nama julukan Sunan Ngadilangu. Sunan Muria termasuk pendukung setia Kerajaan Islam Demak, bahkan bersama-sama Raden Patah dan lainnya, dia turut serta dalam mendirikan kerajaan tersebut dan ikut serta dalam penyempurnaan pembangunan Masjid Agung Demak. Dalam kegiatan mendakwahkan kebenarana agama Allah, Islam, ia lebih suka bergerak didesa-desa pedalaman yang letaknya jauh dari keramaian kota. Ia sendiri lebih senang tinggal didesa dan bergaul sehari-hari dengan rakyat jelata untuk ditarik masuk kedalam agama Islam, meskipun demikian dia tidak menolak siapa saja yang datang untuk menuntut agama Islam. Kawasan tempat ia berdakwah terletak dilereng gunung Muria, 18 km dari kota Kudus. Dalam mempertahankan kelestarian seni budaya Jawa ,sebagai media dakwah, dia menciptakan gending (lagu-lagu) ‘Sinom’ dan ‘Kinanti’, yang liriknya antara lain berbunyi: “Islam ageming urip, tan kena tininggala’ (Agama Islam adalah busana kehidupan, tak boleh ditinggalkan).

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Sunan Gunung Jati mempunyai banyak nama antara lain Syarif Hidayatullah, Makhdum Gunung Jati dan masih banyak nama lainnya, yang paling terkenal ialah dengan nama Faletehan atau Fatahillah. Nasab silsilahnya ialah: Syarif Hidayatullah bin Abdullah (‘Umdatuddin) bin Ali Nur Alam bin Maulana Jamaluddin Al-Akbar Al-Husain bin Sayid Ahmad Syah Jalal bin Amir Abdulmalik bin Alwi bin Muhamad Shahib Marbath..dan silsilah seterusnya sekaitan dengan silsilah Maulana Malik Ibrahim. Dengan demikian Sunan Gunung Jati adalah keturunan Ahlu-Bait Rasulallah saw, yakni termasuk kaum Alawiyyin. Silsilah dan Nasab Sunan Gunung Jati ini dipandang absah, karena sudah dicocokkan dengan naskah yang ada di Palembang yaitu silsilah nasab Sunan Palembang dan dengan silsilah nasab yang berada di Banyuwangi. Menurut riwayat Sunan Gunung Jati datang dari Pasai (Sumatra utara) dan masa itu Pasai diduduki oleh orang-orang Portugis yang datang dari Malaka. Malaka direbut oleh Portugis pada tahun 1511 M. Sunan Gunung Jati pernah menuntut ilmu dikota Mekkah, kemudian nikah dengan adik perempuan Sultan Trenggono (Sultan Demak ke tiga). Sultan-sultan Banten adalah keturunan beliau. Pada masa kekuasaan Sultan Trenggono ,berkat kegiatan dan jasa-jasa Sunan Gunung Jati, banyak daerah Jawa Barat berhasil di Islamkan, kemudian dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan Demak. Untuk mempertahakan keislaman daerah-daerah itu Sunan Gunung Jati tetap berada di Jawa. Pada masa itu Jawa Barat masih berada dibawah kekuasaan kerajaan Hindu. Demikian pula Banten dan Sunda Kelapa. Atas izin dan persetujuan Sultan Demak , Trenggono, berangkatlah sebuah ekspedisi Islam ke Banten dibawah pimpinan Sunan Gunung Jati. Setelah berjuang sekian lama dengan gigih dan tabah pada akhirnya Banten jatuh ketangan Muslimin dan Sunda Kelapa pun dapat direbut dari kekuasaan Pajajaran. Dalam tahun 1526 M kolonial Portugis menginjakkan kaki di Sunda Kelapa, tetapi tak lama kemudian mereka dengan kekerasan diusir oleh Sunan Gunung Jati dan para pengikutnya. Serangan Franciso De Sa pun oleh Sunan Gunung Jati dipukul mundur, kemudian mereka lari meninggalkan Sunda Kelapa kembali ke Malaka (1527 M). Demikianlah perjuangan beliau terhadap golongan kolonial Portugis yang berani mengacak-acak tanah tumpah darahnya di Pasai. Sunan Gunung Jati wafat dalam tahun 1570 M dan dimakamkan didaerah Cirebon (Jawa Barat). 

Dari semua uraian tadi yang ditulis oleh pakar sejarah baik penulis Barat maupun penulis Timur ialah bahwa yang mendakwahkan agama Islam pada umumnya orang-orang Arab atau keturunan Arab, yang datang melalui India atau negeri lain. Mereka bertebaran diberbagai kawasan di Timur dan melalui mereka inilah agama Islam tersebar. Dari semuanya itu dapat diketahui bahwa para penyebar agama Islam itu banyak terdiri dari kaum Sayid Alawiyyin dari Hadramaut. Sebagaimana diketahui bahwa para Sayid itu pada umumnya dipandang sebagai sumber pemikiran dan sumber kehidupan spiritual dari pusat-pusat agama Islam, baik yang berada dinegeri-negeri Arab, di India maupun dikawasan Timur Jauh. Sedang ada orang yang mengatakan penyebaran agama Islam yang pertama adalah dari orang-orang keturunan Cina ini adalah tidak benar!!!

Mengenai nama-nama asli mereka (bukan silsilahnya) sembilan orang wali – kecuali Maulana Malik Ibrahim- hingga sekarang masih terdapat sedikit perbedaan diantara para penulis. Hal itu dapat di maklumi karena mereka pada umumnya tidak meninggalkan pusaka-pusaka tertulis. Adapun nama-nama yang didahului dengan sebutan Sunan semuanya adalah nama-nama julukan atau gelar yang berasal dari kata Susuhunan artinya Yang Mulia. Demikian pula gelar Maulana yang bermakna Pemimpin kita. Semua nama julukan atau nama gelar tersebut diberikan oleh masyarakat muslimin di Jawa pada masa dahulu, karena ketika itu mereka belum mengenal sebutan Sayid, Syarif dan Habib yang lazim digunakan untuk menyebut nama-nama keturunan Ahlu-Bait Rasulallah saw. Sampai sekarang, setiap hari ratusan para penziarah baik yang dari Indonesia maupun dari luar negeri yang berkunjung kepusara para wali Songo tersebut.  Ditempat pemakaman mereka ini para penziarah membaca tahlil, berdoa kepada Allah swt. sambil bertawassul serta bertabaruuk kepada para wali tersebut. (baca bab Tawassul/Tabarruk disitus ini)
Insya Allah setelah membaca isi website ini, para pembaca bisa menilai sendiri jalan mana yang akan kita tempuh agar keridhoan Allah swt dan Rasul-Nya selalu mengiringi kita semua. Sebenarnya masih banyak lagi dalil yang tidak semuanya tercantumkan disini. Semoga semua yang tercantum diwebsite yang sederhana ini bisa memberi manfaat bagi diri dan keluarga kami khususnya serta semua umat muslimin umumnya. 

Semoga Allah swt dan Rasul-Nya berkenan menerima serta meridhoi sedikit kebajikan yang kami kutip didalam website ini bi haqqi (demi kebenaran) wa bi jaahi (dan demi kedudukan/kemuliaan) junjungan kita Habibullah Muhamad saw, para ahlul-bait dan keturunannya. Tidak lain tujuan dan harapan kami menulis dalam website ini agar kita semua tidak sesat-mensesatkan sesama muslimin. Sudah tentu kami sebagai manusia yang penuh kekurangan dan tidak akan luput dari kesalahan dan kekhilafan, dengan demikian kami mohon pada Allah swt untuk sudi mengampuni diri kami bila ada kesalahan dan kekhilafan dalam website ini. 

”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. 

Bi Haqqi Muhammad Wa Aali Muhammad, kabulkanlah ya Allah do’a kami. 
Wa maa taufiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.

1 comment:

  1. Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.


    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan kebrkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah isteri dari Nabi Ibrahim.


    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah Ibu Nabi Musa As. atau ya Saudara Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW. Sedangkan sesudah ayar 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. isteri plus anak-anak beliau.

    Coba baca catatan kaki dari kitab: Al Quran dan Terjemahannya, maka ahlulbaik yaitu hanya ruang lingkup keluarga rumah tangga MUHAMMAD RASULULLAH SAW. Dan jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas, maka ruang lingkup ahlul bait tsb. menjadi:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg 'nabi' sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini tak ada karena beliau 'anak tunggal' dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki.

    Khusus anak lelaki beliau, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, ada anak lelaki pula, wah ini masalah pewaris tahta 'ahlul bait' akan semakin seru. Inilah salah satu mukjizat, mengapa Saidina Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai dewasa dan berketurunan. Pasti, perebutan tahta ahlul baitnya dahsyat jadinya.

    Bagaimana tentang pewaris tahta 'ahlul bait' dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidak mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita nasabkan kepada Bunda Fatimah, ya jika merujuk pada Al Quran tidak bisalah.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, maka karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya. Jadi tidak sistim nasab itu berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari kembali ke nasab laki-laki.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta 'ahlul bait'.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta 'ahlul bait' yang terakhir hanyalah bunda Fatimah, sementara anaknya Saidina Hasan dan Husein bukan lagi pewaris dari tahta AHLUL BAIT.

    Ya jika Saidina Hasan dan Husein saja bukan Ahlul Bait, pastilah anak-anaknya otomatis bukan pewaris Ahlul Bait juga. Tutuplah debat masalah Ahlul Bait ini, karena fihak-fihak yang mengklaim mereka keturunan ahlul bait itu sebenarnya tidak ada karena tahta ahlul bait memang tak diwariskan lagi

    Lalu bagaimana nasab Wali Songo?

    ReplyDelete